Jumat, 16 Januari 2015

Citarasa Sambal Nusantara

.: Tak Lengkap Tanpa Sambal :.

Pada mulanya adalah cabai, lalu menjelma menjadi sambal. Melalui tangan-tangan kreatif peracik bumbu dan tradisi yang diwarisi turun temurun, bahan dasar tersebut bertransformasi menjadi sajian nikmat penggugah selera. Didukung dengan luas wilayah yang membentang dari Sabang hingga Merauke dan dipengaruhi oleh beragam adat, kebiasaan, serta keterampilan lidah lokal, sambal hadir sebagai duta dalam dunia boga yang saling berlomba-lomba menunjukkan kekhasannya memenuhi hasrat para petualang kuliner.

Ada yang menganggapnya hanya sebatas pelengkap rasa. Ada pula yang mengakuinya sebagai menu tersendiri, menempati kasta yang sama dengan menu hidangan lain di meja saji. Dalam peta gastronomi nasional, sambal secara ajeg mencatatkan dirinya dalam menu-menu yang ditawarkan oleh restoran butik hingga warung tenda pinggir jalan. Karena daftarnya terlalu panjang dan jenisnya selalu bertambah setiap saat, ragam sambal nusantara dapat disederhanakan dalam kelompok kecil untuk mewakili jenisnya.

Rabu, 07 Januari 2015

Peucang, Primadona di Ujung Barat Jawa

.: Pulau Peucang, Taman Nasional Ujung Kulon :.

Terserak di ujung barat Jawa, Pulau Peucang seakan menyembunyikan diri dari radar wisatawan. Alamnya disusun dengan hamparan pasir putih, air laut hijau toska, pesona hutan hujan tropis, serta aneka flora dan fauna yang hidup bebas berdampingan dengan manusia. Dalam sebuah percakapan yang biasa dengan para nelayan di dermaga Sumur, saya mendapatkan informasi bahwa Pulau Peucang merupakan highligh perjalanan menjelajah Taman Nasional Ujung Kulon. Mereka bilang dengan penuh keyakinan bahwa, rasa-rasanya, sulit untuk membuat orang tidak jatuh hati saat menyaksikan Pulau Peucang di depan mata. 

Dalam khasanah bahasa Sunda, Peucang berarti kancil. Namun, masyarakat setempat menyebut kata Peucang merujuk pada siput kecil yang biasa ditemukan di hamparan pasir. Pulau Peucang sendiri dulunya merupakan wilayah pertanian. Setelah amukan Krakatau tanggal 27 Agustus 1883, vegetasinya bermetamorfosis menjadi belantara hutan hingga susah untuk dipercaya bahwa hutan lebat ini dulunya merupakan habitat palawija seperti padi, jagung, dan para kerabatnya.

Jumat, 02 Januari 2015

Berburu Badak Jawa di Ujung Kulon

.: Selamat Datang di Taman Nasional Ujung Kulon :.

Jangan pernah berharap banyak jika ada yang mengajak melihat badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) di Ujung Kulon. Tak ada garansi pasti kita dapat menjumpai satwa pemalu ini semudah menemui satwa liar lainnya semacam komodo atau orangutan. Jauh-jauh hari sebelum bertandang ke Taman Nasional Ujung Kulon, sudah saya benamkan secara mendalam di benak bahwa tak akan ada satupun badak Jawa yang akan saya temukan di tempat ini. Menurut survey terakhir tahun 2011 saja, diperkirakan hanya 55 ekor badak yang hidup di taman nasional pertama di Indonesia yang ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh Unesco ini.

Bagi saya sendiri, badak Jawa itu serupa mitos. Banyak orang diam-diam mengimani kalau wujud fisiknya ada, tapi tak satupun yang pernah melihatnya secara langsung selain melalui kamera tersembunyi atau (jika beruntung) berhasil melihat jejaknya jauh di tengah hutan di ujung barat Jawa. Namun demikian, seantero Kabupaten Pandeglang, Banten sepakat menjadikan satwa ini sebagai simbol daerahnya.