Minggu, 14 April 2013

Tetirah di Istana Cipanas

.: Istana Kepresidenan Cipanas :.
Tersohor dengan keberadaan sumber air hangatnya, Cipanas yang berhawa sejuk mengoleksi satu dari enam istana kepresidenan yang dimiliki Indonesia. Bangunan yang berdiri kokoh di kaki Gunung Gede ini memang sejak awal berdirinya ditujukan sebagai tempat tetirah bagi Gubernur Jenderal VOC, bukan gedung pemerintahan atau rumah dinas layaknya Istana Merdeka atau Istana Bogor.

Menempati areal seluas kurang lebih 26 hektar yang dulu dimiliki oleh seorang tuan tanah Belanda bernama Van Heots, lagi-lagi saya dibuat terpesona dengan buah ide Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff yang tampaknya gemar membangun istana. Meski ukurannya relatif mungil dibanding istana kepresidenan lainnya, Istana Cipanas terlihat anggun dan tidak kaku untuk ukuran sebuah rumah peristirahatan kepala negera. Hal ini mungkin karena konstruksi bangunannya yang sebagian besar dari kayu. Gaya dasarnya mengadopsi bentuk rumah musim panas Eropa dengan sedikit sentuhan arsitektur tropis yang menonjolkan nuansa Sunda sehingga memberi kesan hangat dan teduh. Itulah yang membuat saya sejak dulu menunggu-nunggu kesempatan 'bertugas' ke istana ini.  

Jumat, 05 April 2013

Perayaan Meriah di Kepulauan Rempah-Rempah

Tulisan ini diikutkan dalam "Jailolo, I'm Coming!" Blog Contest yang diselenggarakan oleh Wego Indonesia dan Festival Teluk Jailolo.

Sebagai seseorang yang lahir di daerah pegunungan dan hidup di wilayah barat, hanya ada satu kata yang sanggup mendefinisikan Indonesia bagian Timur: jauh. Segala informasi yang terkait dengannya bagaikan dogma dari televisi dan produk informasi sejenis. Bahkan, keharuman aroma rempah-rempahnya hanya tercium dari lembaran teks buku sejarah di bangku sekolah.

Tersohor sebagai negeri penghasil rempah, Maluku seakan sanggup menghipnotis para penjelajah ulung dari berbagai belahan dunia untuk berlabuh dan menjadi bagian dari ekspedisinya. Tak heran, nama Alfonso D'albuquerque begitu terkenalnya hingga diabadikan dalam catatan sejarah sebagai tonggak kedatangan bangsa kolonial di nusantara.

Jumat, 22 Maret 2013

Piknik Bareng Keluarga

Setelah sekian lama :'(
Piknik. Betapa jadulnya kata ini setelah dunia jalan-jalan tambah riuh dan dipenuhi dengan istilah-istilah traveling yang lebih 'keren' dan mutakhir. Piknik bagi saya selalu saja dekat dengan istilah jalan-jalan bareng keluarga. Ngomong-ngomong, kapan sih terakhir kali Anda berlibur bareng orang tua? Kalau susah mengingatnya, berarti sama. Kebanyakan, saat sudah dewasa, orang lebih suka jalan sendiri atau jalan bareng teman-temannya. Mungkin karena kesibukan masing-masing, sudah bertempat tinggal jauh dari orang tua, atau malah sudah setiap hari ketemu, jadi tidak merasa perlu untuk jalan-jalan bareng.

Ceritanya, karena setahun kemarin jarang pulang, menabunglah saya stok tiket pesawat untuk libur panjang karena cuti bersama. Selesai liburan Idul Adha, saya bilang ke bapak kalau liburan selanjutnya saya pengen banget jalan ke Gunung Kelud biar tidak bosen cuma duduk-duduk bengong aja di rumah. Eh, ibu saya nimbrung dan bilang kalau kakak saya juga mau ke Kelud. Lalu saya mengusulkan, kenapa gak sekalian saja kita liburan bareng serumah. Lagian, sudah lama juga kan tidak liburan bareng sejak saya lulus SD.