 |
| Boeing 747-400 yang gempal dan kokoh |
Berkali-kali naik pesawat, saya tak pernah memerhatikan tipe pesawat yang saya tumpangi. Mungkin karena
ndeso, jadi tiap kali masuk pesawat, yang dicari pertama adalah buku doa dan sibuk komat-kamit sendiri sampai pesawat
take off. Gara-gara sering gak nyambung tiap kali diajak ngobrol sepupu saya tentang pesawat, saya jadi terpacu untuk memerhatikan tipe pesawat apa yang saya tumpangi tiap kali terbang.
Pertama kali naik pesawat, saya numpang Boeing 737-300 dari maskapai Sriwijaya Air menuju Tanjung Pandan, Belitung. Penerbangan 55 menit tersebut terasa lama sekali karena saat itu adalah penerbangan paling pagi dan cuaca agak mendung sehingga tiap kali pesawat nyenggol gumpalan awan, saya spontan pegangan kursi. Ini semua diawali dengan tingkah polah teman-teman kantor saya yang pada minta maaf dan memberi nasihat seolah-olah pesawat saya mau jatuh. Ih, amit-amit lah ya. Saya pikir, pengalaman pertama memang selalu meninggalkan kesan yang mendalam. Yang membuat saya lebih senang lagi, meski terbangnya cuma 55 menit, tapi dapat
snack dan segelas air mineral yang cukup mengganjal perut sebelum sarapan.