 |
| koleksi kain batik kesayangan |
Saya sedang duduk sendirian di kamar lantai 5 sebuah hotel di Jakarta saat sebuah televisi swasta nasional menayangkan film dokumenter berjudul
Batik: Our Love Story karya Nia diNata. Meski dalam keseharian tak lepas dari batik, rasa-rasanya saya belum pernah secara khusus menaruh perhatian pada batik. Berkali-kali menyampaikan keinginan untuk mengunjungi Museum Tekstil Tanah Abang untuk belajar membatik, selalu saja berakhir hanya sebatas niat belaka.
Makanya, entah terbius oleh film atau mungkin hasrat terpendam yang mulai muncul kembali, keinginan saya untuk mempelajari batik mulai tumbuh lagi. Awalnya sih saya iseng-iseng mendata koleksi batik yang saya miliki. Setelah itu, mulailah saya senang
browsing-browsing tentang batik, motif yang unik-unik, sampai mengerti bahwa batik sendiri sebenarnya punya dua pengertian. Pertama yaitu batik dimaknai sebagai suatu bentuk seni atau teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Teknik ini sering disebut sebagai
wax-resist dyeing. Yang kedua (dan ini merupakan pengertian yang banyak dipahami oleh orang kebanyakan), batik adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik
wax-resist dyeing tadi yang di dalamnya meliputi penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki sesuatu yang khas atau unik.