Laman

Jumat, 07 November 2014

Semarak Santa: Keriaan Sederhana di Sebuah Pasar

.: Pasar Santa, Pasar Tradisional yang sedang Bermetamorfosis :.

Lokasinya tersembunyi. Untuk orang yang baru pertama kali ke sini, saya perlu tiga kali bertanya untuk bisa menemukan lokasinya. Maklum, meski sering melintas saat saya masih tinggal di Otista dulu, kawasan ini hanya menjadi semacam 'tempat lewat' saja saat wara-wiri Blok M - Kampung Melayu. Pasar Santa namanya. Beberapa hari belakangan, pasar ini sempat melambung namanya dan menjadi topik pembicaraan hangat. Bahkan, dua orang menteri dari Kabinet Kerja juga menyempatkan diri blusukan dan potong rambut segala di pasar ini beberapa hari sebelum saya bertandang.

Saya berkunjung ke Pasar Santa bukan karena ingin menengok tempat cukur yang didatangi menteri. Saya datang atas undangan seorang kawan di ujung sana yang begitu ingin saya temui setelah rentetan kisah perjalanannya saya baca. Begitu menginjak pintu masuknya, terus terang saya sedikit terkejut. Sebuah peti mati drakula menjadi suvenir selamat datang. Mungkin saya datang kepagian. Kios-kiosnya masih pada tutup. Seorang ibu pemilik Toko Emas Cantik tampak sumringah menunjukkan arah ke toilet saat saya datang tergopoh-gopoh kebelet pipis. "Jalan lurus saja sampai mentok, lalu belok kiri. Toilet ada di ujung lorong." Begitu jawabnya sambil tersenyum ramah.  

.: Kios-Kios yang Masih Tidur :.
Saya mengikuti arah yang ditunjukkan oleh ibu penjual emas. Setelah sampai toilet, saya masih harus rela menunggu karena bilik toilet masih ada orangnya. Karena sudah tak tahan lagi, saya bilang bilang ke penjaga toilet, "Mas, saya udah kebelet dari tadi. Sepertinya yang di dalam masih lama. Bolehkah saya pakai bilik toilet wanita. Toh, gak ada yang pakai juga kan."

Gayung bersambut. Si mas penjaga toilet malah berbaik hati menjaga agar tidak ada pengunjung perempuan yang nyelonong masuk sementara saya sedang menyelesaikan 'tugas'. Baik benar rupanya orang ini.

Toilet ini bersih. Satu lagi yang membuat saya takjub dan kaget dalam waktu bersamaan selain peti mati drakula di pintu masuk. Pasalnya, jarang sekali saya melihat dan menikmati toilet bersih di pasar. Seringnya, saya bela-belain menahan buang air gara-gara (maaf) jijik dengan toiletnya. Selain itu, dalam hati saya juga merasa deg-degan sekaligus pasrah gara-gara dalam beberapa minggu terakhir ini sering 'terdampar', salah masuk toilet perempuan, dan baru sadar setelah keluar toilet sembari dihujani tatapan mata menuduh dan penuh curiga. Kerap saya menantang balik tatapan mereka seolah menjawab kalau saya tak sengaja sekaligus mengonfirmasi bahwa salah masuk toilet bukan berarti serta merta jenis kelamin saya berubah bukan? Jadi, biasa aja dong bro matanya.  

Namun demikian, saya keluar toilet dengan perasaan lega. Tak ada pengantri yang buru-buru masuk toilet. Tak perlu juga saya menantang balik tatapan menuduh. Saya bergegas menuju lantai tiga tempat kawan saya menunggu. Saat melewati tangga, saya melihat graviti yang cantik sekali. Mengingatkan saya tentang perjalanan melankolis mengelilingi kota Yogyakarta beberapa bulan silam. Saya terhenyak sebentar dan menyadari bahwa pasar ini mungkin merupakan wadah baru bagi orang-orang 'eksentrik' dengan energi kreativitas berlebih di ibukota. 

.: Grafiti di Salah Satu Dinding di Pasar Santa :.

Dan dari kejauhan, saya sudah mengenali suara kawan saya itu. Twosocks dan Gypsytoes, nama yang sering mereka kenalkan. The Dusty Sneakers duo, begitu saya mengenalnya. Dalam lorong sempit Pasar Santa yang masih sepi, tampak keduanya sedang sibuk menata-nata sebuah kios mungil untuk acara sederhana pagi ini. Saya memerhatikan adanya energi kreativitas di sana.

.: Buku-Buku di Post :.
Mungkin pemandangan ini tampak ganjil. Di sudut pasar yang sepi terdapat satu kios yang menjual buku di antara deretan kios-kios lain yang menawarkan makanan dan minuman berupa kopi, mie ayam, maupun nasi.

Saya suka dengan konsep penataan buku-buku di kios ini. Buku-buku ditempatkan dalam rak berderet, di atas meja panjang, dan di dalam kotak-kotak kontainer di bawah meja. Kesannya begitu mini dan rapi. Saya pikir desainnya cocok ditempatkan pula di rumah-rumah keluarga masa kini, yang tidak terlalu makan tempat tetapi tetap indah dilihat. Mengingat tulisannya yang membahas tentang buku dalam perjalanannya mampir di toko buku Shakespeare and Co, Paris, saya mengasumsikan penataan ini merupakan buah karya tangan Gypsytoes.

Mereka berdua merupakan kawan yang unik menurut saya. Dari tulisan-tulisannya saya kerap tercengang dan belajar banyak dari diksi dan topik yang mereka pilih. Sering saya mengutarakan minat untuk belajar menulis, ngeblog, dan membuat buku. Untuk alasan itulah saya datang ke pasar ini.

.: Mini Workshop di Tengah Pasar :.
Twosocks berbaik hati menyediakan satu tempat untuk saya di kiosnya yang mungil tempat belajar menulis bersama beberapa kawan lain dalam lingkaran pertemanannya. Mengingat tempatnya sempit, dia sengaja hanya mengundang beberapa orang yang memang serius dan tertarik belajar penulisan kreatif.

Acara mini workshop ini digagas oleh The Dusty Sneakers yang menempatkan Windy Ariestanty sebagai mentor. Sebagai seorang editor di sebuah perusahaan penerbitan, saya pikir Windy merupakan mentor yang mumpuni untuk menyampaikan materi workshop ini. Materinya sendiri boleh dibilang sederhana namun ternyata rumit sekali. 

Sebelum workshop dimulai, setiap peserta diberi kesempatan untuk berkeliling pasar dan menuliskan apapun yang terlintas di kepala. Saya yang baru pertama kali bertandang ke Pasar Santa tentu tak mau melewatkan kesempatan ini. Saya berjalan pelan-pelan, menyusuri lorong tempat kios-kios berjajar masih tutup.

.: Ini Bukan Pantat Truk, Tapi Dinding Warung Makan :.

Saya berasumsi, sepertinya pasar ini memang sehari-harinya relatif sepi. Bayangkan, dari 1.151 kios yang ada, hanya 459 saja yang berpenghuni. Jumlah segitu tidak sepenuhnya juga buka saban hari. Seringnya hanya buka saat akhir pekan tiba. Itupun masih ditambah dengan jam buka kios yang dimulai pukul 11 siang.

.: Sudut-Sudut Kreatif di Sebuah Kedai, Pasar Santa :.
Namun demikian, saya terkesan dengan gaya masing-masing pemilik kios yang seolah berlomba-lomba menjadikan kiosnya paling menarik, paling bergaya kekinian, sarat dengan nafas kreativitas anak muda, dan memberikan kesan kepada pengunjung tidak sedang berada di dalam sebuah pasar.

Suatu misal, kedai warung makan Pancen Eco. Sebenarnya warung ini warung makan biasa semacam warteg. Tapi suasana warungnya nyaman, bersih, dan sungguh menarik. Dindingnya dihiasi lukisan yang lazim kita temui di pantat sebuah truk.

Saya sebenarnya ingin sekali mencicipi kopi di kedai ABCD. Namanya saja unik. Singkatan dari A Bunch of Caffeine Dealers. Saya baca-baca ulasan dan berita di internet, kedai ini sepertinya sedang ngehits sekali dan menjadi topik hangat sebagai salah satu tempat minum kopi asyik di Jakarta. Tapi, entah mengapa, saya lebih tertarik dengan kopi yang ditawarkan daripada berita-berita yang beredar. Mungkin lebih karena tersihir dan kangen dengan aroma biji kopi. Dari rumah, saya sudah ngiler ingin mencicipinya. Namun urung karena ternyata kedainya tutup. Konon, kedai ini bukanya tidak pasti. Tergantung kemauan si pemilik kedai dan pengumuman bukanya melalui instagram pula. Sepertinya, jodoh mencicipi kopi ABCD masih terpasung di tangan Tuhan.

.: Tangga di Pasar Santa :.
ABCD bukan kedai yang memonopoli penjualan kopi. Ada juga kedai kopi Gayobies. Tapi kedai ini juga masih tutup saat saya bertandang. Satu lagi kesempatan mencicipi kopi diurungkan.

Saya kembali ke kedai milik The Dusty Sneakers dan mendapati semua peserta tengah sibuk mencoret-coret catatannya. Dari situ setiap peserta diminta membacakan tulisannya satu persatu. Sungguh saya merasa tidak pede berada di antara orang-orang yang sudah malang melintang di dunia tulis-menulis dan karyanya sering dimuat di media.

Setelah mendengarkan tulisan dari masing-masing peserta dibacakan, Windy sepertinya tidak pernah bosan mengulang-ulang tentang pentingnya belajar structure untuk menghasilkan tulisan yang enak dibaca. Hal yang sering penulis lupakan adalah membuat kerangka karangan. Sesuatu yang sering diajarkan oleh Guru Bahasa Indonesia di bangku sekolah dan kerap diabaikan. Kerangka karangan itu berfungsi untuk mengendalikan cerita agar tidak melantur. Dengan kerangka karangan, tulisan bisa jadi melantur, tapi melantur berteknik.

Sedangkan tulisan yang baik itu berasal dari 'bahan-bahan' tulisan yang baik pula. Untuk itu, seorang penulis hendaknya juga merupakan pembaca yang rakus. Saat ini saya memang sedang giat-giatnya belajar menulis berteknik. Dan penjelasan dari Windy sedikit banyak menggenapi proses pembelajaran tersebut. Sepulang dari mini workshop ini, saya sampai merasa perlu membuka kembali diktat teori menulis yang khusus saya beli beberapa bulan silam agar materi workshop tidak menguap percuma. Dari situ saya sadar bahwa belajar menulis itu butuh komitmen yang konsisten.

.: adie DOES with The Dusty Sneakers :.
Sembari mendengarkan penjelasan dari Windy, saya memerhatikan orang-orang yang lewat di lorong. Mereka sepertinya agak heran dengan apa yang sedang kami lakukan dan kerap melemparkan pandangan menyelidik ingin tahu. 
  
Waktu dua jam sepertinya tidak banyak. Mini workshop ini disudahi dan kios harus kembali disulap menjadi toko buku. Saya sendiri masih terhenyak tak percaya baru saja belajar menulis di tengah pasar. Menyadari hal itu, saya merasakan bahwa pasar ini 'beda' berkat dihuni oleh orang-orang dengan pikiran eksentrik macam The Dusty Sneakers. :D

Saya jadi ingat sesuatu. Dalam agama yang saya anut, pasar adalah tempat yang paling dibenci oleh Tuhan. Tapi setelah tahu tempat ini, sepertinya 'potongan' ajaran tersebut perlu ditafsirkan agak sedikit longgar. Adanya keriaan yang berwarna-warni di sebuah pasar yang dipenuhi oleh manusia yang berlomba-lomba untuk menjadi kreatif demi menyambung hidup dan merayakan kreativitas, saya yakin Tuhan akan setuju untuk menyukai tempat ini juga. []

18 komentar:

  1. Wah terima kasih ya Adie, sudah mampir ke POST. Jangan kapok ya, ke depan kami kepingin bikin kegiatan terkait kepenulisan dan buku indah dengan lebih rutin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asyiiik, kabar-kabar ya kalau ada lagi. Semoga jadwalnya gak bentrok dengan jadwal trip dan naik gunung ;)

      Hapus
  2. setiap kios memiliki keunikan tersendiri, memiliki karakter tersendiri :)

    BalasHapus
  3. Kak .. pantat truk itu burik atau mulus kak ???

    BalasHapus
  4. Asik men... itu pasar apa mall :D

    -www.fkrimaulana.blogspot.com-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasar kak. Asyik lho buat gaul. Mampir aja kalau ada waktu :)

      Hapus
  5. Menarik nih pasar kreatif anak muda. Saya pernah baca tentang pasar ini di koran Kompas, edisi kapan..gitu. Mudah-mudahan makin banyak pasar-pasar kreatif kayak gini di seluruh kota di Indonesia mas Adie. di Bogor belum ada tuh pasar kayak gini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh iya, sering diliput kok di koran-koran gitu. Bogor kayaknya masih jauh deh hehehe, kemarin lewat pasar yang deket Kebun Raya keadaannya becek dan perlu ditata deh kayaknya :)

      Hapus
  6. Ih, gue juga penasaran banget sama pasar ini. Besok mampir deh kalau main ke Jakarta lagi.

    Wow, pasar tempat paling dibenci Tuhan? Gue baru denger (ya iyalah) :'D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha mampir aja, nanti cari kios yang namanya Post ya, seru banget kalau pas ada event di situ :)

      Hapus
  7. Tempatnya unik... besar.... kayaknya bisa dijadikan tempat duduk buat mahasiswa hehehe....

    BalasHapus
  8. Suka baca tulisanmu ttg Pasar Santa yg ini :). Beda dari yg biasa aku baca... jd lbh tau seperti apa pasar santanya... Aku blm prnh kesini mas. Jauh dr Rawamangun soalnya... ;p

    Tapi baca ttg toko bukunya td, jd pgn liat...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halaaah Rawamangun - Santa mah deket itungannya. Gw dari BSD disamperin lho hehehe :)

      Hapus